Selasa, 15 September 2009

­Nama : Desia Yunita

Kelas : Marketing 11-2C

NIM : 2007110203

Andai aku menjadi menteri pariwisata

Dari artikel-artikel yang ada andai aku menjadi menteri pariwisata, yang akan saya lakukan adalah berusaha untuk menjadi menteri pariwisata yang dapat mensukseskan negara Indonesia sebagai negara wisata yang mampu menjadi pesaing di dunia internasional. Banyak yang harus saya perbaiki apabila saya menjadi menteri pariwisata, dimana kita harus memajukan daerah wisata di Indonesia. Di Indonesia banyak sekali daerah wisata yang dapat dikembangkan sehingga dapat manjadi sumber devisa kita dan dapat membuat negara Indonesia menjadi negara yang dikenal secara Internasional.

Banyak program yang akan saya buat agar Indonesia menjadi daerah wisata di dunia Internasional. Beberapa program tersebut antara lain adalah Indonesia mampu membuat negaranya menjadi negara yang peduli lingkungan, dimana tidak terdapat lagi sampah-sampah di pinggir jalan, Indonesia menjadi lebih bersih, mampu melakukan daur ulang pada sampah-sampah yang ada. Mampu menanggulangi kemacetan yang ada di kota-kota besar di Indonesia, karena para wisatawan mengunjungi daerah wisata untuk berlibur bukan untuk terjebak di dalam kemacetan. Program lainnya adalah semakin mengembangkan kota-kota wisata yang ada di Indonesia, karena masih banyak terdapat daerah wisata yang berada dipelosok desa yang terkadang tidak diketahui oleh wisatawan maupun masyarakat sekitar. Pendapatan Indonesia banyak didapatkan dari devisa yang didapatkan dari daerah wisata yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan dari dalam maupun luar negeri. Meningkatkan keamanan di Indonesia terutama daerah wisata, pengaman tersebut selain dari sisi kriminal juga dari berbagai virus penyakit. Karena akhir-akhir ini banyak terjadi virus penyakit yang sangat membahayakan yang menyebabkan kematian pada korbannya.

Program-program yang telah saya buat tersebut akan saya laksanakan dengan semaksimal mungkin agar hasilnya juga sangat memuaskan bagi kemajuan daerah wisata maupun Indonesia. Program-program tersebut akan saya analisis dan akan saya lakukan revisi apabila masih terdapat banyak kekurangan sehingga kas negara yang telah dikeluarkan untuk memajukan negaranya tidak terbuang dengan sia-sia.

Pengembangan daerah wisata ini harus mendapat dukungan dari pemerintah di Indonesia serta dari masyarakat sekitar, karena dengan mengembangkan daerah wisata yang masih terpencil dapat membantu masyarakat sekitar untuk menambah penghasilannya, contohnya seperti berjualan souvenir, menjual makanana khas daerahnya, membangun penginapan, membangun tempat makan, dan masih banyak cara yang bisa membantu perekonomian daerah wisata maupun perekonomian masyarakat sekitarnya. Diharapkan pengembangan daerah wisata ini mampu menyatukan hubungan Indonesia dengan negara-negara lain, dan Indonesia juga di kenal sebagai daerah kunjungan wisata, karena di Indonesia masih banyak sekali daerah wisata yang masih dalam tahap pengembangan. Sangat diharapkan pengembangan tersebut berhasil dan membuat nama Indonesia semakin di kenal dan semakin banyak dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara sehingga dapat menghilangkan pendapat negatif dari para wisatawan.


Jumat, 1 Agustus 2008

(http://www.kompas.com/read/xml/2008/08/01/08294568/wisata.unggulan.di.indonesia.timur.ditambah)

Departemen Budaya dan Pariwisata merencanakan menambah daerah tujuan wisata dari 10 daerah tahun ini menjadi 15 daerah tahun 2009. Rencananya penambahan lima daerah wisata itu sebagian besar di ambil di wilayah Indonesia Timur seperti Nusa Tenggara Timur dan Barat hingga Sulawesi. Penambahan ini mempertimbangkan agar adanya variasi kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik. Selama ini kunjungan wisatawan dianggap tidak merata ke seluruh wilayah Indonesia. Agar tidak ada kecemburuan khususnya Indonesia Timur dan kami inginkan semua daerah maju serta dikenal seluruh dunia. Kami berharap penambahan ini mampu memotivasi daerah-daerah yang ditunjuk untuk lebih mempercantik diri dan memelihara keindahan serta unggulannya, kata Kasubdit Promosi Tujuan Wisata Wilayah IV Putu Ngurah.
Tahun ini program Visit Indonesia Year telah mencatat kunjungan wisatawan sekitar 3,5 juta jiwa dari target tujuh juta wisatawan. Bali ditaragetkan mampu menyumbang dua juta wisatawan. Sementara Pulau Dewata menyanggupi dengan target 1,8 juta jiwa.

Selasa, 21 Juli 2009

(http://www.kompas.com/read/xml/2009/07/21/18574974/indonesia.harus.kembangkan.wisata.alam)

Alam Indonesia memiliki potensi pariwisata yang sangat besar. Kini saatnya untuk mengembangkan potensi-potensi alam tersebut. Sesuai dengan kebijakan pemerintah dalam mengembangkan pariwisata secara nasional di Indonesia, Asosiasi Pariwisata Alam Indonesia (APAI) mengadakan seminar bertajuk "Kebijakan, Tantangan, dan Peluang Pariwisata Alam Indonesia" di Gedung Manggala Wanabakti Jakarta pada tanggal 21-22 Juli 2009.

Banyak tantangan dan kendala di lapangan yang perlu segera diantisipasi agar kesempatan yang ada bagi kemajuan Pariwisata Alam Indonesia tidak terhambat dan tidak direbut oleh negara-negara lain. Pariwisata yang baik memerlukan regulasi yang baik pula. Seminar yang diadakan selama dua hari ini diadakan dengan tujuan untuk meningkatkan dan menyatukan persepsi atas Pariwisata Alam Indonesia serta mendukung setiap kegiatan investasi dan pengembangannya. Di dalamnya harus ada koordinasi yang terus menerus antara investor dan pemerintah. "Pariwisata Indonesia adalah tulang punggung yang akan dikembangkan oleh pemerintah," ujar Tonny Rakhmat Soehartono, M.Sc., Direktur PJLWA.

Pemerintah Indonesia memandang pariwisata sebagai sektor strategis dalam pembangunan nasional. Pada tahun 2008, sektor pariwisata berada pada peringkat ketiga penyumbang devisa terbesar dengan menghasilkan 7,37 dollar AS yang diperoleh dari kedatangan 6,4 juta wisatawan mancanegara.

"Seminar ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah awal untuk mengingatkan kembali seluruh stakeholdernya akan tanggung jawabnya atas potensi Pariwisata Alam Indonesia agar dapat bermanfaat bagi negara dan bangsa secara berkelanjutan," jelas David Makes.

Minggu, 12 Juli 2009

(http://www.kompas.com/read/xml/2009/07/12/14052386/pariwisata.nias.mulai.pulih)

Setelah empat tahun tsunami dan gempa bumi meluluhlantakkan Pulau Nias, sektor pariwisata di pulau tersebut mulai pulih. Daerah tujuan wisata di Nias Selatan, seperti Pantai Lagundri dan Sorake, mulai kembali ramai dikunjungi wisatawan asing yang ingin berselancar di kedua pantai tersebut.

Warga di sekitar Lagundri dan Sorake juga kembali membangun home stay atau bungalow di pinggir pantai. Namun seiring pulihnya sektor pariwisata di Pulau Nias, pemerintah daerah masih dirasakan kurang mendukung. Menurut salah seorang pemilik home stay, Timotius Wau, setelah tsunami dan gempa bumi, banyak persepsi yang salah tentang Pulau Nias di kalangan wisatawan asing.

"Mereka menduga semuanya hancur. Penginapan dan rumah-rumah penduduk hancur total sehingga mereka mengira tak bisa lagi mendapatkan tempat tinggal jika pergi ke Nias. Padahal tidak semuanya hancur. Selain itu, para peselancar asing itu juga mengira karang-karang di pantai telah naik semua ke permukaan sehingga ombak yang bagus tak ada lagi," kata Timotius di Teluk Dalam. Seiring dengan proses rehabilitasi dan rekonstruksi oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias, menurut Timotius, Pulau Nias, terutama Nias Selatan, kembali ramai dikunjungi wisatawan asing. Mereka, lanjut Timotius, kembali bisa menikmati ombak Pantai Sorake dan Lagundri untuk berselancar. Selain Sorake dan Lagundri, dua pantai yang terkenal sebagai salah satu tempat berselancar terbaik di dunia, kawasan lain di Pulau Nias juga mulai dilirik wisatawan.

Rata-rata wisatawan asing tersebut datang ke Pulau Nias memang untuk berselancar. Beberapa pulau di sekitar Pulau Nias, seperti Pulau Asu, menjadi tujuan wisata baru. Mereka mencari pantai yang indah dengan ombak yang bagus untuk berselancar.

Sangat disayangkan Pemkab Nias Selatan yang tak melihat peluang kembali menghidupkan sektor pariwisata di daerahnya. "Tak ada dukungan pemda sama sekali. Lihat saja tempat-tempat sampah di Pantai Sorake. Kami sendiri yang menyediakannya. Pemda malah tak berbuat. Padahal, turis-turis asing tersebut paling anti melihat sampah plastik bertebaran di sekitar pantai.

Salah seorang pemilik home stay di Sorake lainnya, Ina Kristov, mengakui, dibanding sebelum tsunami dan gempa bumi, kondisi sekarang memang masih belum apa-apa. "Dulu sebelum tsunami, kami terpaksa menolak turis domestik untuk menginap di sini. Kami dulu memprioritaskan turis asing. Sekarang kami tak lagi membeda-bedakan pengunjung untuk menginap di sini," ujarnya.

Dia mengungkapkan, perlahan memang kondisi pariwisata di Nias Selatan mulai pulih. Ini ditunjukkan dengan semakin banyaknya turis asing yang datang. Jika sebelum tsunami dan gempa bumi, turis asing yang datang mayoritas dari Australia, Jepang, dan Amerika Serikat. Kini, turis dari negara-negara lain, seperti Brasil dan Perancis pun, mulai berdatangan menikmati ombak Pantai Sorake dan Lagundri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar